Standar Internasional Ukuran H Beam di Industri Konstruksi

Berbicara soal konstruksi modern, presisi dan keseragaman adalah hal yang mutlak. Setiap komponen bangunan harus sesuai standar agar dapat menjamin kekuatan, keamanan, dan efisiensi biaya proyek. Salah satu elemen penting yang sangat dipengaruhi oleh standar ini adalah H-Beam, atau sering disebut juga dengan wide flange beam. Profil baja ini digunakan secara luas pada berbagai jenis struktur mulai dari gedung bertingkat, jembatan, hingga infrastruktur besar lainnya.

Standar ukuran h beam memastikan bahwa setiap balok baja memiliki dimensi, berat, dan kapasitas beban yang konsisten di seluruh dunia. Hal ini memudahkan insinyur dalam merancang struktur yang aman dan efisien, serta memungkinkan proyek menggunakan material dari berbagai negara tanpa harus menyesuaikan ulang perhitungan struktur. Tanpa standar yang baku, potensi kesalahan teknis bisa meningkat, mengancam keamanan konstruksi.

Selain itu, standar ini juga memudahkan dalam proses inspeksi dan sertifikasi. Pihak kontraktor maupun lembaga pengawas dapat dengan mudah memverifikasi kualitas material hanya dengan mengacu pada standar internasional yang berlaku. Jadi, penerapan standar bukan hanya soal formalitas, melainkan kunci utama untuk memastikan keberhasilan proyek dari tahap desain hingga pembangunan.

Sebelum membahas standar internasional, penting untuk memahami bagaimana membaca dan memilih ukuran besi h beam yang tepat untuk proyek Anda.

ukuran h beam umumnya ditulis dalam format: H x B x t1 x t2, di mana:

  • H = Tinggi web (height) dalam mm
  • B = Lebar flange (width) dalam mm
  • t1 = Ketebalan web (web thickness) dalam mm
  • t2 = Ketebalan flange (flange thickness) dalam mm

Contoh: H-200×200×8×12 berarti:

  • Tinggi: 200 mm
  • Lebar: 200 mm
  • Tebal web: 8 mm
  • Tebal flange: 12 mm

Tabel Ukuran H-Beam Standar JIS (Tersedia di GYS)

Ukuran NominalH (mm)B (mm)t1 (mm)t2 (mm)Berat (kg/m)Aplikasi Umum
H-100×100×6×81001006817.2Struktur ringan, rangka atap
H-125×125×6.5×91251256.5923.8Balok sekunder, mezzanine
H-150×150×7×1015015071031.9Kolom bangunan 2-3 lantai
H-200×200×8×1220020081249.9Balok utama gedung bertingkat
H-250×250×9×1425025091472.4Struktur gedung menengah
H-300×300×10×15300300101594.0Gedung tinggi, jembatan kecil
H-350×350×12×193503501219135.0Jembatan besar, gedung tinggi
Garuda Yamato Steel memproduksi H-Beam dengan range ukuran 100×100×6×8 mm hingga 350×350×12×19 mm sesuai standar SNI BjPHC 400 dan JIS G 3101 SS400. Berat per meter dapat bervariasi ±3% sesuai toleransi SNI. Untuk konsultasi pemilihan ukuran yang tepat untuk proyek Anda, hubungi tim teknis GYS.

Perbandingan Standar Internasional H-Beam

StandarNotasi ContohKelas Mutu UmumKeunggulan UtamaNegara Pengguna
JIS (Jepang)H-300×300×10×15SS400, SS540Ketahanan gempa tinggi, presisi manufakturIndonesia, Asia Tenggara, Jepang
ASTM (Amerika)W12×26A36, A992, A572Kekuatan tinggi, weldability baikAmerika, global
EN (Eropa)HEB 200S235JR, S355JRVariasi dimensi luas, keberlanjutanEropa, Afrika, Timur Tengah
Ketiga standar internasional memiliki tujuan sama: menjamin kekuatan, keandalan, dan keseragaman kualitas H-Beam. GYS mengadopsi standar JIS (Japanese Industrial Standard) karena paling ideal untuk kondisi Indonesia yang rawan gempa, dengan presisi manufaktur tinggi dan kompatibilitas dengan iklim tropis. Produk GYS juga memenuhi SNI BjPHC 400 untuk memastikan kesesuaian dengan regulasi nasional.

Rumus praktis:
Berat (kg/m) = 0.00785 × [2B×t2 + (H-2t2)×t1]

Dimana:

  • H = tinggi (mm)
  • B = lebar (mm)
  • t1 = tebal web (mm)
  • t2 = tebal flange (mm)
  • 0.00785 = konstanta densitas baja (kg/cm³)

Contoh Perhitungan untuk H-200×200×8×12: = 0.00785 × [2×200×12 + (200-2×12)×8] = 0.00785 × [4800 + 176×8] = 0.00785 × 6208 = 48.7 kg/m (mendekati nilai tabel 49.9 kg/m)

  1. Untuk Bangunan Rendah (1-3 Lantai)
    → H-100 hingga H-150: Cukup untuk struktur ringan
  2. Untuk Bangunan Menengah (4-8 Lantai)
    → H-200 hingga H-300: Menahan beban lebih besar
  3. Untuk Bangunan Tinggi (>8 Lantai) atau Jembatan
    → H-300 hingga H-350+: Kapasitas maksimal
  4. Pertimbangkan:
    • Beban hidup dan beban mati struktur
    • Bentang balok (semakin panjang, semakin besar ukuran)
    • Kondisi lingkungan (gempa, angin, korosi)
    • Efisiensi biaya vs keamanan

Standar internasional H-Beam merupakan spesifikasi teknis global yang mengatur ukuran, bentuk, ketebalan, dan toleransi profil baja berbentuk H. Tujuan utamanya adalah untuk menyeragamkan dimensi dan mutu sehingga berbagai produsen dari seluruh dunia dapat menghasilkan produk yang kompatibel satu sama lain.

Standar ini mencakup beberapa aspek utama seperti:

a. Dimensi utama (tinggi web, lebar flange, dan ketebalan)

b. Toleransi ukuran (batas deviasi maksimum dari ukuran nominal)

c. Kelas mutu baja (misalnya ASTM A36, SS400, S235JR)

d. Berat per meter

Dengan mengacu pada standar ini, proyek di berbagai negara dapat saling menggunakan spesifikasi yang sama. Sebagai contoh, baja H-Beam berukuran H-200 × 200 × 8 × 12 akan memiliki ukuran dan kekuatan yang serupa, baik itu diproduksi di Amerika, Eropa, maupun Asia.

Salah satu sistem standar internasional H-Beam yang paling banyak digunakan di dunia adalah milik Amerika Serikat, yang dikembangkan oleh ASTM International (American Society for Testing and Materials) dan AISC (American Institute of Steel Construction). Kedua lembaga ini telah menjadi rujukan global bagi banyak negara karena sistemnya yang sangat rinci dan mudah diaplikasikan di berbagai kondisi proyek.

READ  Deretan Produk Unggulan Garuda Yamato Steel (GYS), Apa Saja?

ASTM berfokus pada pengujian material dan karakteristik besi baja, sementara AISC lebih menitikberatkan pada panduan desain dan konstruksi struktur baja. Kombinasi keduanya memberikan pedoman yang komprehensif, mulai dari kualitas material hingga metode penggunaannya dalam desain bangunan.

Beberapa standar ASTM yang umum dipakai untuk H-Beam antara lain:


a. ASTM A36 – Baja karbon struktural dengan kekuatan tarik minimal 400–550 MPa, cocok untuk proyek umum seperti gedung bertingkat menengah dan jembatan kecil.


b. ASTM A992 – Baja kekuatan tinggi dengan kemampuan las sangat baik, menjadi pilihan utama untuk struktur gedung tinggi dan infrastruktur modern.


c. ASTM A572 Grade 50 – Baja dengan kekuatan tarik tinggi serta ketahanan terhadap deformasi, ideal untuk proyek yang menuntut ketangguhan ekstra.


Sementara itu, AISC menyediakan panduan desain seperti Steel Construction Manual yang membantu insinyur menentukan dimensi profil, metode sambungan, serta keamanan steel structure. Dengan kombinasi antara ASTM (untuk material) dan AISC (untuk desain), sistem Amerika ini dikenal sebagai salah satu yang paling terpadu, terstruktur, dan efisien di dunia konstruksi baja internasional.

Selain Amerika, kawasan Eropa juga memiliki sistem standar internasional H-Beam yang kuat melalui European Committee for Standardization (CEN), dengan acuan utama EN 10025. Tak hanya itu, Jerman juga mengembangkan sistem DIN (Deutsches Institut für Normung) yang sering digunakan secara paralel dan bahkan menjadi rujukan bagi negara lain di luar Eropa.

Beberapa jenis baja yang diatur oleh standar Eropa meliputi:
a. S235JR dan S355JR – Dua jenis structural steel dengan tingkat kekuatan berbeda yang disesuaikan dengan kebutuhan beban dan kondisi lingkungan proyek.
b. HEA, HEB, dan HEM – Tiga varian utama profil H-Beam di Eropa, masing-masing memiliki perbedaan pada tebal flange dan berat per meter.

Kelebihan sistem Eropa ialah klasifikasinya yang sangat presisi dan seragam. Sebagai contoh, profil HEA 200 memiliki berat lebih ringan daripada HEB 200, meskipun memiliki tinggi nominal yang sama. Hal ini memudahkan desainer atau insinyur dalam memilih profil yang paling efisien sesuai kebutuhan kekuatan, beban, dan biaya. Selain itu, standar Eropa juga menekankan aspek keberlanjutan dan efisiensi energi, sehingga menjadikannya relevan dengan tren pembangunan hijau dan ramah lingkungan yang semakin digaungkan di era modern.

Lain halnya dengan kawasan Asia, di sini standar yang paling sering digunakan adalah JIS (Japanese Industrial Standards) dari Jepang dan KS (Korean Standards) dari Korea Selatan. Kedua negara ini dikenal dengan industri baja yang sangat maju dan memiliki standar tinggi dalam hal kualitas material.

Beberapa contoh umum dari standar JIS untuk H-Beam antara lain:

a. JIS G3192: Mengatur bentuk dan dimensi structured steel, termasuk H-Beam.

b. JIS G3101 SS400: Mengatur mutu baja karbon struktural dengan kekuatan tarik sedang.

Sedangkan Korea Selatan mengadopsi standar KS D3503, yang mirip dengan JIS namun lebih disesuaikan dengan kebutuhan industri lokal.

Keunggulan standar Asia terletak pada presisi manufaktur dan kemudahan penyesuaian desain. Banyak produsen H-Beam di Indonesia, termasuk Garuda Yamato Steel (GYS), mengacu pada JIS karena dianggap lebih ideal untuk proyek konstruksi baja, bangunan bertingkat dan infrastruktur besar, mengingat kesesuaian karakteristiknya dengan kondisi iklim tropis dan beban lokal di Indonesia.

Meskipun setiap kawasan memiliki sistem standarnya masing-masing, pada dasarnya ketiganya memiliki tujuan sama—yaitu untuk memastikan kekuatan, keandalan, dan keseragaman kualitas baja H-Beam di seluruh dunia.

Namun, ada beberapa perbedaan penting yang perlu dipahami oleh para kontraktor dan insinyur:

1. Dimensi dan berat per meter — H-Beam standar Eropa (HEA/HEB/HEM) cenderung memiliki variasi lebih banyak dibanding standar Amerika (W-Shapes) dan Asia (JIS).

2. Kelas mutu baja — ASTM lebih fokus pada kekuatan tarik dan kemampuan las, sementara EN menitikberatkan pada komposisi kimia dan ketahanan terhadap deformasi.

3. Kode identifikasi — Misalnya, ASTM menggunakan notasi seperti W12×26, sedangkan JIS menulis H-300×300×10×15.

4. Kesesuaian proyek — Proyek infrastruktur besar seperti jembatan lebih sering menggunakan standar Eropa karena variasi ketebalannya, sedangkan proyek gedung bertingkat biasanya menggunakan standar JIS atau ASTM.

Perbedaan-perbedaan ini tidak membuat satu standar lebih baik dari yang lain. Yang terpenting adalah konsistensi penggunaan satu sistem dalam satu proyek agar tidak terjadi ketidaksesuaian dimensi atau beban antar komponen.

Selain itu, memahami setiap standar membantu tim perencanaan dalam menentukan spesifikasi paling efisien dan ekonomis, terutama jika material diimpor dari luar negeri. Dengan demikian, proyek dapat berjalan lebih lancar, hemat biaya, dan tetap memenuhi regulasi keselamatan yang berlaku.

Pemilihan standar internasional H-Beam tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Setiap proyek konstruksi memiliki kebutuhan dan karakteristik yang berbeda, sehingga pemilihan standar harus mempertimbangkan berbagai faktor penting agar hasil akhir sesuai dengan tujuan desain dan keamanan struktur.

Beberapa faktor utama yang memengaruhi keputusan ini antara lain:

Setiap proyek memiliki beban dan fungsi struktural yang berbeda. Misalnya, gedung bertingkat tinggi membutuhkan H-Beam dengan standar kekuatan tertentu seperti ASTM atau EN, yang menekankan kekuatan tarik dan ketahanan terhadap deformasi.

READ  Cara Hitung Ukuran H Beam yang Tepat untuk Proyek Konstruksi

Faktor lingkungan seperti tingkat kelembapan, potensi gempa, dan suhu ekstrem dapat memengaruhi pilihan standar. Standar JIS dari Jepang, misalnya, lebih unggul untuk daerah dengan risiko gempa tinggi karena memperhatikan aspek fleksibilitas struktur.

Beberapa negara memiliki aturan wajib terkait penerapan standar tertentu. Di Indonesia, misalnya, SNI (Standar Nasional Indonesia) sering kali diselaraskan dengan standar internasional seperti ASTM atau JIS agar kompatibel dengan sistem global.

Aspek ekonomi juga menjadi faktor kunci. Proyek besar biasanya menyesuaikan standar internasional dengan bahan yang tersedia secara lokal untuk menekan biaya, tanpa mengorbankan mutu dan keamanan.

Dengan mempertimbangkan keempat faktor di atas, pemilihan standar internasional dapat dilakukan secara strategis, memastikan struktur yang efisien, kuat, dan sesuai regulasi.

Penerapan standar internasional pada H-Beam membawa dampak besar terhadap kualitas, performa, dan umur pakai bangunan. Standar ini tidak hanya memberikan pedoman teknis, tetapi juga memastikan hasil konstruksi yang konsisten dan aman untuk jangka panjang.

Dengan mengikuti standar seperti ASTM atau EN, setiap profil H-Beam telah diuji untuk menahan beban berat dan gaya lateral. Hal ini meningkatkan keandalan struktur terhadap tekanan vertikal dan horizontal.

Bangunan yang menerapkan H-Beam berstandar internasional cenderung lebih tahan terhadap gempa, angin kencang, atau beban dinamis lainnya. Misalnya, JIS (Japanese Industrial Standard) menekankan aspek keamanan terhadap getaran dan gaya gempa.

Standar internasional mengatur toleransi dimensi yang ketat. Hal ini menjamin keseragaman produk di seluruh batch produksi, sehingga meminimalkan risiko kegagalan sambungan antar komponen.

Kualitas baja yang sesuai standar global memiliki daya tahan korosi lebih baik dan mampu mempertahankan kekuatannya dalam jangka panjang. Ini berarti efisiensi investasi yang lebih tinggi karena biaya perawatan berkurang.

Secara keseluruhan, penerapan standar internasional bukan hanya soal memenuhi persyaratan teknis, tetapi juga tentang menjaga keselamatan pengguna dan keberlanjutan proyek.

Indonesia kini semakin aktif mengadopsi standar internasional H-Beam untuk meningkatkan kualitas dan daya saing sektor konstruksi nasional. Tren ini didorong oleh kebutuhan akan infrastruktur yang lebih aman, efisien, dan sesuai dengan praktik terbaik global.

SNI mulai disusun dengan merujuk pada standar internasional seperti ASTM, EN, dan JIS. Tujuannya agar produk lokal tetap relevan dan dapat digunakan dalam proyek berkelas internasional.

Penerapan standar internasional banyak ditemukan pada proyek strategis seperti pembangunan jembatan, gedung tinggi, dan kawasan industri. Proyek-proyek ini biasanya mensyaratkan spesifikasi H-Beam yang telah lulus uji sertifikasi global.

Pemerintah melalui lembaga sertifikasi bekerja sama dengan produsen baja untuk memastikan H-Beam yang diproduksi di dalam negeri memenuhi standar internasional. Langkah ini juga mendorong peningkatan kualitas produksi baja nasional.

Meskipun banyak kemajuan, tantangan masih ada; seperti keterbatasan teknologi produksi, kesadaran terhadap standar mutu, dan biaya sertifikasi. Namun, dengan dukungan dari industri baja seperti GYS, proses adaptasi ini terus berkembang.

Penerapan standar internasional secara konsisten di Indonesia akan membawa sektor konstruksi menuju level baru yang lebih profesional dan berdaya saing global.

PT Garuda Yamato Steel (GYS) sebagai produsen long steel merupakan pabrik baja terbesar di Indonesia hasil joint venture yang didirikan pada tahun 2024, menggabungkan keahlian dari:

  • Yamato Kogyo Co., Ltd. (Jepang) – Teknologi manufaktur canggih
  • Siam Yamato Steel Co., Ltd. (Thailand) – Pengalaman regional
  • PT Hanwa Indonesia – Jaringan distribusi
  • PT Gunung Raja Paksi Tbk – Fondasi produksi sejak 1970

GYS menawarkan kelengkapan ukuran h beam dari 100×100 mm hingga 350×350 mm, mencakup beberapa kategori, yaitu:

Ringan (100-150 mm):

  • H-100×100×6×8 mm
  • H-125×125×6.5×9 mm
  • H-150×150×7×10 mm

Menengah (200-250 mm):

  • H-200×200×8×12 mm
  • H-250×250×9×14 mm

Berat (300-350 mm):

  • H-300×300×10×15 mm
  • H-350×350×12×19 mm

Seluruh produk H-Beam GYS memenuhi:

  • SNI BjPHC 400 (Standar Nasional Indonesia)
  • JIS G 3101 SS400 (Japanese Industrial Standard)
  • TKDN >90% (Tingkat Komponen Dalam Negeri)

GYS tidak hanya menjual H-Beam standar, tetapi juga menyediakan layanan:

  1. Pemotongan Produksi
    • Cold Sawing untuk presisi tinggi
    • Oxy Cutting untuk kebutuhan khusus
  2. Pemesinan
    • Boring (pengeboran)
    • Drilling (pelubangan)
    • Slotting (pembuatan slot)
  3. Pengerjaan logam
    • Bending (pembengkokan)
    • Produksi T-Beam custom

Keunggulan Kompetitif Garuda Yamato Steel

AspekKeunggulan GYSNilai Tambah
Kelengkapan Produk7+ ukuran standar H-Beam (100-350mm)One-Stop Solution
TeknologiYamato Kogyo (Jepang), presisi tinggiKualitas Global
SertifikasiSNI BjPHC 400, JIS G 3101 SS400, ISO 9001Standar Internasional
TKDNLebih dari 90% komponen lokalMendukung Program Pemerintah
Pengalaman50+ tahun (warisan PT Gunung Raja Paksi)Track Record Terbukti
Lokasi PabrikCikarang, Bekasi – Kawasan industri strategisAkses Logistik Optimal
Layanan FabrikasiCutting, machining, bending, custom T-BeamCustomisasi Sesuai Proyek
Quality ControlSistem kontrol ketat, toleransi ±3%Konsistensi Terjamin
PortofolioRMDP Balikpapan, Harco Glodok, Park Hyatt NZProyek Nasional & Internasional
PartnershipJoint venture: Yamato Kogyo, Siam Yamato, HanwaJaringan Global
READ  Aplikasi Konstruksi Baja dalam Pembangunan Gedung Bertingkat
Garuda Yamato Steel (GYS) menggabungkan keahlian lokal 50+ tahun dengan teknologi manufaktur Jepang untuk menghasilkan H-Beam berkualitas internasional. Dengan kelengkapan ukuran 100-350mm, sertifikasi SNI & JIS, TKDN >90%, dan layanan fabrikasi custom, GYS adalah mitra strategis untuk proyek konstruksi Anda. Hubungi tim GYS di www.garudayamatosteel.com untuk konsultasi teknis dan quotation.

GYS telah mensuplai H-Beam untuk berbagai proyek besar di Indonesia:

  • RMDP Balikpapan – Proyek residensial dan komersial
  • Harco Glodok, Jakarta – Kompleks pertokoan
  • Hankook, Bekasi – Fasilitas industri
  • PLTS Kalimantan – Infrastruktur energi terbarukan
  • Park Hyatt Project, New Zealand – Proyek internasional
  1. Konsultasi Kebutuhan
    Hubungi tim GYS untuk diskusi spesifikasi teknis
  2. Pemilihan Ukuran
    Pilih dari katalog lengkap atau request custom
  3. Quotation & Pemesanan
    Dapatkan penawaran harga kompetitif
  4. Produksi & Delivery
    Proses produksi cepat dengan quality control ketat

Kontak GYS:

  1. Kelengkapan Produk – One-stop solution untuk semua kebutuhan H-Beam
  2. Standar Internasional – Produk tersertifikasi SNI dan JIS
  3. Teknologi Jepang – Quality control dengan presisi tinggi
  4. Layanan Custom – Fabrikasi sesuai kebutuhan spesifik
  5. Pengalaman Terbukti – Track record 50+ tahun di industri baja
  6. TKDN Tinggi – Mendukung program pemerintah dengan komponen lokal >90%

Di balik setiap proyek konstruksi berkualitas, ada produsen dan distributor baja yang berkomitmen pada standar internasional. Mereka memainkan peran penting dalam menjaga agar setiap batang H-Beam yang keluar dari pabrik telah memenuhi spesifikasi global. Berikut ini peran-peran penting mereka:

Produsen baja seperti Garuda Yamato Steel (GYS) menerapkan sistem kontrol mutu yang ketat mulai dari pemilihan bahan baku hingga tahap finishing. Proses ini memastikan H-Beam memiliki dimensi, kekuatan, dan toleransi sesuai standar internasional.

Produsen yang patuh terhadap standar global biasanya menjalani audit dari lembaga internasional. Sertifikasi seperti ISO 9001 atau ASTM compliance menjadi bukti bahwa produk mereka telah diakui secara global.

Selain produksi, perusahaan juga berperan dalam edukasi pasar. Melalui seminar dan pelatihan, mereka membantu kontraktor dan insinyur memahami pentingnya penggunaan H-Beam berstandar internasional.

Distributor seperti GYS menyediakan data teknis lengkap, mulai dari berat, dimensi, hingga kapasitas beban maksimum. Ini membantu pelanggan dalam proses perhitungan dan pemilihan produk yang tepat.

Dengan kombinasi antara produksi berkualitas tinggi, sertifikasi global, dan transparansi informasi, produsen dan distributor berkontribusi besar terhadap kemajuan industri baja nasional.

Penerapan standar internasional H-Beam menjadi kunci utama dalam menciptakan struktur bangunan yang aman, kuat, dan tahan lama. Melalui penerapan pedoman global seperti ASTM, EN, dan JIS, setiap proyek konstruksi dapat mencapai efisiensi sekaligus memenuhi persyaratan keselamatan yang ketat.

Namun, keberhasilan implementasi standar ini tidak lepas dari peran industri baja nasional. Garuda Yamato Steel (GYS), sebagai salah satu produsen baja terkemuka di Indonesia, turut mendukung penerapan standar internasional dengan menghadirkan produk H-Beam berkualitas tinggi mulai dari 100×100 mm hingga 350×350 mm, tersertifikasi SNI dan JIS, serta dilengkapi layanan fabrikasi custom sesuai kebutuhan proyek.

Komitmen GYS terhadap mutu dan inovasi, didukung oleh teknologi Jepang dan pengalaman 50+ tahun, menjadikan perusahaan ini mitra strategis bagi berbagai proyek konstruksi besar di Indonesia. Dengan mengutamakan kontrol kualitas, sertifikasi global, layanan profesional, dan TKDN >90%, GYS membantu memastikan setiap struktur yang dibangun di tanah air mampu bersaing di tingkat internasional.

Melalui penerapan standar internasional yang konsisten dan dukungan dari produsen terpercaya seperti GYS, masa depan industri konstruksi Indonesia akan semakin kuat, aman, dan berdaya saing tinggi di kancah global.

Apa itu standar internasional H-Beam dalam industri konstruksi?

Standar internasional H-Beam adalah pedoman global yang mengatur ukuran, kualitas, dan kekuatan baja agar memenuhi syarat keamanan dan efisiensi struktur di berbagai negara.

Ukuran h beam apa saja yang tersedia di Indonesia?

Di Indonesia, khususnya dari GYS, tersedia H-Beam mulai dari 100×100×6×8 mm hingga 350×350×12×19 mm sesuai standar SNI BjPHC 400 dan JIS G 3101 SS400.

Apakah GYS menyediakan layanan custom H-Beam?

Ya, GYS menyediakan layanan fabrikasi custom termasuk cutting, drilling, boring, slotting, dan bending sesuai spesifikasi proyek.

Bagaimana cara memesan H-Beam dari PT Garuda Yamato Steel (GYS)?

Hubungi GYS melalui website www.garudayamatosteel.com atau kunjungi kantor di Cikarang, Bekasi. Tim GYS siap memberikan konsultasi teknis dan quotation untuk kebutuhan proyek Anda.

Apa saja proyek besar yang menggunakan H-Beam dari GYS?

GYS telah mensuplai H-Beam untuk proyek seperti RMDP Balikpapan, Harco Glodok Jakarta, Hankook Bekasi, PLTS Kalimantan, dan Park Hyatt New Zealand.